BNPB Optimistis Pengerahan KRI Sriwijaya Dukung Penanggulangan Bencana
JAKARTA, 29 SEPTEMBER 2026 — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyambut optimistis kebijakan pemanfaatan...
JAKARTA, 29 SEPTEMBER 2026 — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyambut optimistis kebijakan pemanfaatan kapal induk KRI Sriwijaya-100 untuk mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya dalam misi penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan di Indonesia. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa kehadiran kapal induk itu akan sangat membantu efisiensi distribusi logistik, armada kapal dan helikopter utama kebencanaan juga SAR ke wilayah yang sulit dijangkau. Adapun misalnya pengalaman menghadapi penyaluran bantuan tanggap darurat bencana banjir bandang disertai longsor diperparah oleh fenomena Siklon Senyar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhir 2025 lalu yang tantangannya mengandalkan distribusi udara - kapal laut setelah akses darat terputus. Hal serupa juga pernah dialami setahun sebelumnya untuk penanganan tanggap darurat erupsi Gunung Ruang di Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara. Ribuan orang warga harus segera di evakuasi agar terhindar dari material vulkanik namun hanya ada beberapa kapal terdekat yang bisa menjangkau wilayah itu. "Kita tentu menyambut baik atas kebijakan itu. Akan sangat membantu bila ada tempat yang menjadi pusat pengiriman logistik dan penempatan alutsista yang akan dikirim ke wilayah terdampak yang sulit dijangkau," kata dia. Kesiapsiagaan Personel dan Sinergi Pertahanan Ketika ditanya terkait teknis pengoperasian dan perlengkapan khusus penanganan bencana, Berton menyampaikan pihaknya belum dapat menghadirkan rincian lebih lanjut karena pembahasan tingkat kementerian/lembaga masih berkoordinasi di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam), Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Adapun misalnya seperti penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dibawah koordinasi Menko Polkam yang juga selaku Ketua Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Nasional. Kemudian penanggulangan dampak bencana hidrometeologi maupun geologi yang dibawah koordinasi Menko PMK. "Untuk pemanfaatan Kapal Induk Sriwijaya seperti keperluan penanganan karhutla, kami belum bisa menghadirkan penjelasan, atau sebaiknya (tanyakan) ke menko," kata dia. Kapal induk eks-ITS Giuseppe Garibaldi buatan Italia secara resmi berganti nama menjadi KRI Sriwijaya-100 melalui upacara penurunan bendera di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9). KRI Sriwijaya-100 memiliki dimensi panjang 180 meter, lebar 33 meter, bobot penuh 13.850 ton, serta sanggup menempuh daya jelajah hingga 7.000 mil laut dengan kecepatan maksimum 30 knot. Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali sebelumnya mengungkapkan bahwa KRI Sriwijaya-100 diprioritaskan untuk mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP) yang diproyeksikan menjadi pangkalan terapung (floating base) utama dalam mempercepat penanganan tanggap darurat bencana di wilayah kepulauan Indonesia. Pengabdian Prajurit dan Bakti Masyarakat Hal itu dinilai sangat dimungkinkan mengingat kapal induk ini juga mampu menampung awak hingga 550 orang, jauh lebih banyak dari daya tampung KRI Brawijaya-320 yang hanya sekitar 203 orang personel awak kapal. Kirim Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.
Tirani Totalitas