KPAI Soroti Perlindungan Keluarga terhadap Pelaku Pemerkosaan di Sampang

KPAI Soroti Perlindungan Keluarga terhadap Pelaku Pemerkosaan di Sampang

KPAI menyoroti solidaritas negatif dari keluarga pelaku pemerkosaan gadis di Sampang, yang menghambat penanganan kasus.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan kekhawatiran mengenai solidaritas negatif yang ditunjukkan oleh keluarga pelaku kekerasan seksual. Hal ini terungkap dalam konteks kasus pemerkosaan seorang gadis berusia 15 tahun di Sampang, yang melibatkan 27 pelaku. Komisioner KPAI, Sylvana Apituley, menjelaskan bahwa keluarga para pelaku cenderung tutup mulut meskipun mereka mengetahui keterlibatan anggota keluarganya dalam tindakan tersebut. "Keengganan keluarga untuk menyerahkan pelaku atau menangani pelaku ini berangkat dari solidaritas negatif yang ada," ujar Sylvana dalam konferensi pers di Kantor KPAI, Jakarta Pusat. Dyah, juga dari KPAI, menambahkan bahwa rasa malu dan anggapan bahwa kasus semacam ini adalah hal yang tabu menjadi faktor pendorong keengganan keluarga untuk berbicara. Hal ini, menurutnya, justru menghambat upaya penanganan kasus pemerkosaan. "Korban dan keluarga korban sering kali tidak memberikan informasi mengenai pelaku. Persepsi kultural yang ada harus dibongkar agar informasi dapat disampaikan dengan baik," jelas Dyah. Dia menegaskan bahwa sikap tutup mulut dari keluarga hanya akan melanggengkan kekerasan seksual. Menurutnya, perilaku ini menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan kekerasan terhadap anak terus berlanjut. Kasus pemerkosaan yang terjadi di Sampang melibatkan 27 orang pelaku, di mana 16 di antaranya sudah ditetapkan sebagai tersangka. Pihak kepolisian saat ini masih melakukan pengejaran terhadap pelaku lainnya. Kapolres Sampang, AKPB Hartono, menyatakan bahwa dari 27 pelaku, 17 sudah diamankan. Selain itu, satu pelaku terlibat dalam dua kasus pemerkosaan, menunjukkan kompleksitas dan seriusnya masalah ini. Dengan situasi yang ada, KPAI menyerukan agar masyarakat tidak melindungi pelaku dan lebih berani untuk melaporkan tindakan kekerasan seksual. Hal ini penting untuk mencegah kasus serupa terjadi di masa depan. Sumber Detik.com

Tirani Totalitas