Tantangan Pembangunan Sekolah di Tengah Penurunan Jumlah Siswa
Pembangunan sekolah baru di tengah penurunan jumlah siswa menimbulkan tantangan baru di sektor pendidikan. Evaluasi...
Pemerintah Indonesia sedang mengembangkan program Sekolah Rakyat untuk meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Namun, kebijakan ini muncul di tengah penurunan jumlah anak usia sekolah yang signifikan. Menurut data dari Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, tingkat fertilitas di Indonesia adalah 2,13 anak per perempuan, dan proporsi penduduk lansia sudah mencapai 11,97 persen. Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai perlunya pembangunan gedung sekolah baru. Dr. Suryanto, Dosen Fakultas Pendidikan dan Humaniora Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), mengungkapkan bahwa penurunan jumlah anak usia sekolah tidak harus bertentangan dengan kebutuhan akan pendidikan yang layak. Ia menekankan bahwa masalah yang dihadapi adalah distribusi, keterjangkauan, kualitas, dan keadilan sosial dalam pendidikan. Perlu dicatat bahwa penurunan jumlah penduduk tidak terjadi merata di seluruh Indonesia. Beberapa daerah mengalami penurunan peserta didik, sementara daerah perkotaan atau industri justru mengalami peningkatan. Oleh karena itu, Suryanto menekankan pentingnya kebijakan pendidikan berbasis data yang presisi hingga tingkat desa dan kecamatan. Suryanto berpendapat bahwa pembangunan sekolah baru sebaiknya menjadi opsi terakhir. Sebelum memutuskan untuk membangun, pemerintah seharusnya memetakan kapasitas sekolah yang ada dan membuat proyeksi jumlah siswa untuk dua dekade ke depan. Dia juga menyarankan konsep sekolah klaster sebagai solusi efisien. Dalam konsep ini, satu sekolah utama berfungsi sebagai pusat layanan, sedangkan sekolah-sekolah kecil berperan sebagai satelit pembelajaran, sehingga penggunaan sumber daya dapat lebih optimal. Gedung sekolah yang tidak terpakai dapat dialihfungsikan menjadi pusat pendidikan anak usia dini (PAUD) atau perpustakaan desa, daripada dibiarkan kosong dan terbengkalai. Hal ini dianggap lebih efisien dalam menghadapi tantangan pendidikan saat ini. Di tengah meningkatnya angka partisipasi pendidikan dasar yang mencapai 99,51 persen, tantangan utama kini beralih dari akses menuju kualitas pembelajaran. Hasil PISA 2022 menunjukkan bahwa kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia masih di bawah rata-rata OECD, menandakan bahwa meskipun anak-anak telah bersekolah, mereka belum belajar secara optimal. Untuk itu, Suryanto mendorong evaluasi keberhasilan program Sekolah Rakyat berdasarkan kemampuan lulusan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan mengatasi kemiskinan. Dia juga menekankan perlunya kebijakan yang lebih fleksibel untuk redistribusi tenaga pendidik dan pemanfaatan teknologi dalam pendidikan. Sumber Detik.com
Tirani Totalitas