TNI Tetap Hadir di Daerah Sulit dan Terpencil di Tengah Sorotan Pernyataan Dr Ryu Hasan

TNI Tetap Hadir di Daerah Sulit dan Terpencil di Tengah Sorotan Pernyataan Dr Ryu Hasan

JAKARTA, 21 SEPTEMBER 2026 — Pernyataan Dr. Ryu Hasan mengenai tugas dan penghasilan prajurit Tentara Nasional Indonesia...

JAKARTA, 21 SEPTEMBER 2026 — Pernyataan Dr. Ryu Hasan mengenai tugas dan penghasilan prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadi perbincangan di media sosial setelah beredar dalam sebuah unggahan yang menampilkan kutipan dirinya tentang pekerjaan tentara. Di tengah sorotan tersebut, muncul kontra narasi yang mengingatkan publik bahwa banyak prajurit TNI menjalankan tugas di wilayah sulit, perbatasan, dan daerah terpencil. Dalam unggahan yang beredar, Dr. Ryu Hasan dikutip menyampaikan, “Tentara itu kerjanya belum tentu 1 tahun sekali, tapi dapet gaji. Perang, perang nya melawan rakyat sendiri.” Kutipan tersebut kemudian dipadukan dengan sejumlah pesan visual, antara lain “Aparat untuk rakyat bukan sebaliknya”, “Rakyat bukan musuh”, serta “Untuk negara bukan untuk menindas rakyat”. Pernyataan itu memicu tanggapan karena dinilai tidak menggambarkan secara utuh berbagai bentuk penugasan yang dijalankan prajurit TNI. Di lapangan, sebagian personel harus bertugas jauh dari pusat kota, berada di kawasan perbatasan, melewati medan berat, serta menjalankan tugas di wilayah yang aksesnya terbatas. Bertugas Jauh dari Pusat Kota Kontra narasi yang berkembang menyoroti sisi lain dari keseharian prajurit TNI yang bertugas di daerah sulit dan terpencil. Kondisi geografis Indonesia membuat sebagian penugasan harus dilakukan di kawasan pegunungan, pedalaman, perbatasan, hingga wilayah yang sulit dijangkau dengan transportasi biasa. Dalam materi tersebut, prajurit digambarkan membawa perlengkapan dan logistik melintasi medan berat serta berada di tengah masyarakat di wilayah penugasan. Gambaran itu digunakan untuk menunjukkan bahwa pekerjaan anggota TNI tidak hanya berkaitan dengan peperangan. Selain menjaga wilayah perbatasan dan kedaulatan negara, kontra narasi tersebut juga menampilkan keterlibatan prajurit dalam membantu masyarakat di daerah penugasan. Kehadiran di wilayah terpencil menjadi salah satu bagian yang dinilai perlu diketahui publik ketika membahas tugas TNI secara keseluruhan. Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa kehidupan prajurit di lapangan memiliki kondisi yang beragam. Ada personel yang harus meninggalkan keluarga dalam waktu tertentu, menempuh perjalanan dengan medan yang tidak mudah, serta menjalankan tugas di wilayah dengan keterbatasan sarana dan akses. Kritik Perlu Melihat Konteks Perdebatan mengenai pernyataan Dr. Ryu Hasan juga memperlihatkan pentingnya membedakan kritik terhadap tindakan tertentu dengan penilaian terhadap seluruh prajurit TNI. Kritik terhadap institusi negara merupakan bagian dari ruang publik. Namun, pembahasan mengenai tugas prajurit perlu melihat konteks penugasan secara lebih lengkap agar tidak menimbulkan kesan bahwa seluruh anggota TNI menjalankan pekerjaan yang sama dalam kondisi yang sama. Kontra narasi terhadap pernyataan tersebut karena itu lebih menekankan pada fakta lapangan mengenai keberadaan prajurit di kawasan perbatasan, medan berat, serta wilayah yang sulit dijangkau. Informasi mengenai kondisi penugasan itu penting agar masyarakat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai pekerjaan anggota TNI. Di berbagai daerah, penugasan tidak selalu berlangsung di kawasan perkotaan atau fasilitas yang mudah dijangkau, tetapi juga di tempat-tempat dengan kondisi geografis yang menantang. Sorotan terhadap pernyataan Dr. Ryu Hasan pada akhirnya menjadi pengingat bahwa percakapan publik mengenai TNI perlu tetap terbuka, tetapi juga sebaiknya mempertimbangkan kenyataan tugas yang dijalankan prajurit di lapangan. Kritik dapat disampaikan, sementara pengabdian personel yang bertugas di daerah sulit dan terpencil juga perlu dilihat secara proporsional agar masyarakat mendapatkan informasi yang lebih lengkap.

Tirani Totalitas